Dihadapan
orang yang kau cintai,
Musim dingin berubah
menjadi musim semi yang indah
Dihadapan orang yang kau
sukai,
Musim dingin tetap saja
musim dingin,hanya suasananya lebih undah sedikit
Dihadapan orang yang kau
cintai
Jantungmu tiba-tiba
berdebar lebih cepat
Dihadapan orang yang kau
sukai,
Kau hanya merasa senang dan
gembira saja.
Apabila engkau melihat
kepada mata orang yang kau cintai,
Matamu berkaca-kaca
Apabila engkau melihat
kepada mata orang yang kau sukai,
Engkau hanya tersenyum saja
Dihadapan orang yang kau
cintai,
Kata-kata yang keluar
berasal dari perasaan yang terdalam
Dihadapan orang yang kau
sukai
Kata-kata hanya keluar dari
pikiran saja.
Jika orang yang kau cintai
menangis,engkaupun akan ikut menangis disisinya
Jika orang yang kau sukai
menangis,engkau hanya menghibur saja.
Perasaan cinta itu dimulai
dari mata sedangkan rasa suka dimulai dari telinga.
Jadi jika kau mau berhenti
menyukai seseorang,cukup dengan menutup telingga,
Tapi apabila kau mencoba
menutup matamu dari orang yang kau cintai,cinta itu
berubah menjadi tetesan air
mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu
yang cukup lama.
"Tetapi selain rasa
suka dan rasa cinta… ada perasaan yang lebih mendalam,yaitu
rasa saying…rasa yang tidak
hilang secepat rasa cinta.Rasa yang tidak mudah
berubah.
Perasaan yang dapat
membuatmu berkorban untuk orang yang kamu sayangi.Mau
menderita demi kebahagiaan
orang yang kamu sayangi.Cinta ingin memiliki,tetapi
sayang hanya ingin melihat
orang yang disayanginya bahagia….walaupun harus
kehilangan.
Senin, 03 September 2012
Sabtu, 11 Agustus 2012
MAAFKAN AKU, KAWAN
Dua
orang sahabat karib sedang berjalan melintasi gurun pasir. Ditengah perjalanan,
mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar,
merasa sakit hati, tetapi dengan tanpa berkata-kata. Dia menulis diatas pasir :
“hari ini, sahabat terbaikku menampar pipiku.”
Mereka
terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk
mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang
namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya. Ketika dia
mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis disebuah batu : “hari
ini, sahabat terbaikku menyelamatkan nyawaku.”
Orang
yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, “mengapa setelah saya melukai
hatimu, kau menulis diatas pasir dan sekarang kamu menulis dibatu?”
Temannya
tersenyum sambil menjawab, “ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus
menulisnya diatas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan
tersebut. Namun jika sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya
diatas batu hati kita, agar tidak bisa hilang dan tertiup angin.”
Sumber : kumpulan Cerita
Motivasi, Daryanto, Satu Nusa
KISAH ARLOJI YANG HILANG
Ada seorang tukang kayu. Suatu saat ketika
sedang bekerja, secara tidak sengaja arlojinya terjatuh dan terbenam diantara
tingginya tumpukkan serbuk kayu. Arloji itu merupakan sebuah hadiah dan telah
dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Oleh karena itu, ia
berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya.
Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri
sendiri, si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu.
Teman-teman pekerja yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia
saja. Arloji kesayangannya itu tetap tidak ditemukan. Tibalah saat makan siang.
Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu
meninggalkan bengkel kayu tersebut.
Saat itu seorang anak yang sejak tadi
memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukkan serbuk kayu
tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak lama berselang, ia telah menemukan
kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu
amat gembira. Namun ia juga heran karena sebelumnya banyak orang yang telah
membongkar tumpukan serbuk kayu namun sia-sia. Tetapi anak ini Cuma seorang
diri saja dan berhasil menemukan arloji itu.
“bagaimana caranya kau mencari arloji ini?”
tanya si tukang kayu
“saya hanya duduk secara tenang dilantai. Dalam
keheningan itu, saya bisa mendengar bunyi tik-tak, tik-tak. Dengan itu, saya
tahu dimana arloji itu berada,” jawab anak itu.
Sumber :
kumpulan Cerita Motivasi, Daryanto, Satu Nusa
SIAPA TAHU NASIB SESEORANG?
Konon dahulu ada petani mempunyai seorang anak
dan seekor kuda. Suatu hari, kuda petani itu melarikan diri. Para tetangganya
menghibur agar si petani tidak bersedih. Mereka berkata, “alangkah malang
nasibmu, kudamu melarikan diri!”
Si petani menjawab, “siapa dapat mengetahui
nasib seorang, malang atau mujur.”
“tentu saja itu adalah nasibmu yang malang,”
kata para tetangganya.
Seminggu kemudian, kuda petani itu pulang
diikuti 20 ekor kuda liar. Para tetangganya datang untuk memberi selamat,
“alangkah mujurnya nasibmu, kudamu telah pulang, bahkan membawa 20 kuda lain.”
Si petani berkata, “siapa dapat mengetahui nasib
seseorang, malang atau mujur.”
Hari berikutnya, anak si petani menunggang salah
satu kuda liar tersebut. Ia terjatuh dari kuda dan patah kakinya. Para
tetangganya datang menghibur. Mereka berkata, “alangkah malang nasibmu.” Petani
itu berkata, “siapa dapat mengetahui nasib seseorang, malang atau mujur.”
Sebagian dari tetangga mulai jengkel lalu mereka berkata, “tentu saja itu suatu
kemalangan, dasar orang tua bodoh!.” Seminggu kemudian, sepasukan tentara
datang kedesa itu, mendaftar semua pemuda yang layak untuk diterjunkan dalam
medan perang yang letaknya sangat jauh dari desa itu. Anak si petani yang patah
kakinya tidak didaftar. Para tetangga datang untuk mengucapkan selamat,
“alangkah mujurnya nasib anakmu. Ia tidak masuk dalam daftar wajib militer.” Si
petani berkata “siapa dapat mengetahui kemujuran seseorang?!”
Sumber :
Hikmah dari seberang, unknown Author, Pustaka Zawiyah
Minggu, 05 Agustus 2012
Wanita yang Beruntung
Suasana pagi itu sangat sibuk. Jam menunjukkan pukul 8:30 ketika seorang lelaki tua umur 80-an masuk untuk meminta agar jahitan di ibu jarinya dilepas. Ia berkata bahwa ia sedang terburu-buru karena ada janji pukul 9:00. Aku memahami gelagatnya lalu memintanya untuk duduk. Aku tahu pekerjaan ini akan memakan waktu lebih dari satu jam sebelum orang lain bisa menemuinya.
Sambil merawat lukanya aku terlibat dalam pembicaraan dengannya. Aku bertanya apakah pagi ini ia punya janji dengan salah seorang dokter disini karena ia tampak terburu-buru. Ia menjawab tidak, ia harus pergi kerumah perawatan (nursing home) untuk sarapan bersama istrinya. Aku lalu bertanya tentang keadaan istrinya. Ia berkata bahwa istrinya menderita Alzheirmer dan belum lama dirawat di tempat itu.
Sambil mengobrol, kuselesaikan balutan di ibu jarinya. Aku bertanya apakah istrinya akan merasa khawatir bahwa hari ini ia agak terlambat. Ia menjawab bahwa istrinya sudah lima tahun tidak lagi mengenalinya.
Aku merasa terkejut dan bertanya, "apakah kau pergi kesana setiap hari meski istrimu sudah tidak mengenalimu?"
Ia tersenyum, menepuk tanganku lalu berkata, "benar ia tidak mengenaliku, tapi kan aku mengenalinya"
Sambil merawat lukanya aku terlibat dalam pembicaraan dengannya. Aku bertanya apakah pagi ini ia punya janji dengan salah seorang dokter disini karena ia tampak terburu-buru. Ia menjawab tidak, ia harus pergi kerumah perawatan (nursing home) untuk sarapan bersama istrinya. Aku lalu bertanya tentang keadaan istrinya. Ia berkata bahwa istrinya menderita Alzheirmer dan belum lama dirawat di tempat itu.
Sambil mengobrol, kuselesaikan balutan di ibu jarinya. Aku bertanya apakah istrinya akan merasa khawatir bahwa hari ini ia agak terlambat. Ia menjawab bahwa istrinya sudah lima tahun tidak lagi mengenalinya.
Aku merasa terkejut dan bertanya, "apakah kau pergi kesana setiap hari meski istrimu sudah tidak mengenalimu?"
Ia tersenyum, menepuk tanganku lalu berkata, "benar ia tidak mengenaliku, tapi kan aku mengenalinya"
Sumber : Hikmah dari seberang, Unknown Author, Pustaka Zawiyah
Pengujian Rangkap Tiga
Di zaman Yunani kuno, Socrates dianggap memiliki kedudukan terhormat dalam dunia pengetahuan. Suatu hari temannya bertemu dengan filsuf besar ini lalu berkata, "tahukah kau berita yang kudengar tentang sahabatmu?"
"Tunggu sebentar!" kata Socrates. "Sebelum kau ceritakan kepadaku, aku ingin kau menjalani sebuah tes ringan. Tes ini disebut Tes Saringan Rangkap Tiga."
"Tes Saringan Rangkap Tiga?"
"Benar," kata Socrates melanjutkan, "sebelum kau bercerita tentang temanku, mungkin sebaiknya kita gunakan waktu sejenak untuk menyaring apa yang hendak kau katakan. Itulah sebabnya kusebut Tes Saringan Rangkap Tiga. Tes pertama adalah penyaringan KEBENARAN. Apakah kau mutlak yakin bahwa apa yang hendak kau sampaikan ini benar?"
"Tidak," jawab orang itu, "sesungguhnya aku hanya mendengar itu dari orang lain dan..."
"Baiklah," kata Socrates. "Jadi kau tidak yakin apakah berita itu benar atau tidak! Sekarang, mari kita lanjutkan dengan tes kedua disebut penyaringan KEBAIKAN. Apakah yang hendak kau ceritakan itu adalah sesuatu yang baik tentang sahabatku?"
"Tidak, justru kebalikannya..."
"Jadi" lanjut Socrates, "kau hendak menceritakan kepadaku sesuatu yang buruk tentang sahabatku padahal kau tidak yakin berita itu benar?! Meskipun demikian, kau masih bisa lulus dalam tes ini karena masih ada satu tes lagi, yaitu penyaringan MANFAAT. Apakah berita tentang temanku yang hendak kau sampaikan ini bermanfaat bagiku?"
"Tidak...mungkin tidak benar-benar bermanfaat."
"Nah," kata Socrates, "jika berita yang hendak kau sampaikan tidak benar, tidak baik, dan tidak bermanfaat, lalu mengapa kau hendak menceritakannya kepadaku?"
Demikianlah mengapa Socrates dianggap sebagai filsuf besar dan terhormat. Jika kita dapat melindungi sahabat kita dan orang-orang yang kita cintai dengan cara demikian, kita tidak akan bisa dipengaruhi orang lain.
"Tunggu sebentar!" kata Socrates. "Sebelum kau ceritakan kepadaku, aku ingin kau menjalani sebuah tes ringan. Tes ini disebut Tes Saringan Rangkap Tiga."
"Tes Saringan Rangkap Tiga?"
"Benar," kata Socrates melanjutkan, "sebelum kau bercerita tentang temanku, mungkin sebaiknya kita gunakan waktu sejenak untuk menyaring apa yang hendak kau katakan. Itulah sebabnya kusebut Tes Saringan Rangkap Tiga. Tes pertama adalah penyaringan KEBENARAN. Apakah kau mutlak yakin bahwa apa yang hendak kau sampaikan ini benar?"
"Tidak," jawab orang itu, "sesungguhnya aku hanya mendengar itu dari orang lain dan..."
"Baiklah," kata Socrates. "Jadi kau tidak yakin apakah berita itu benar atau tidak! Sekarang, mari kita lanjutkan dengan tes kedua disebut penyaringan KEBAIKAN. Apakah yang hendak kau ceritakan itu adalah sesuatu yang baik tentang sahabatku?"
"Tidak, justru kebalikannya..."
"Jadi" lanjut Socrates, "kau hendak menceritakan kepadaku sesuatu yang buruk tentang sahabatku padahal kau tidak yakin berita itu benar?! Meskipun demikian, kau masih bisa lulus dalam tes ini karena masih ada satu tes lagi, yaitu penyaringan MANFAAT. Apakah berita tentang temanku yang hendak kau sampaikan ini bermanfaat bagiku?"
"Tidak...mungkin tidak benar-benar bermanfaat."
"Nah," kata Socrates, "jika berita yang hendak kau sampaikan tidak benar, tidak baik, dan tidak bermanfaat, lalu mengapa kau hendak menceritakannya kepadaku?"
Demikianlah mengapa Socrates dianggap sebagai filsuf besar dan terhormat. Jika kita dapat melindungi sahabat kita dan orang-orang yang kita cintai dengan cara demikian, kita tidak akan bisa dipengaruhi orang lain.
P E N S I L
Pembuat pensil menaruh pensil disampingnya sebelum ia memasukkannya kedalam kotak. "Ada lima hal yang perlu kau ketahui sebelum aku mengirimmu kedunia," kata pembuat pensil kepada pensil.
"Pertama, kau dapat melakukan banyak hal yang besar asal kau bersedia berada dalam genggaman orang.
Kedua, kau akan merasakan pedihnya rautan dari waktu ke waktu, tapi kau membutuhkan itu agar menjadi pensil yang lebih baik.
Ketiga, kau harus bisa mengoreksi kesalahan yang kau goreskan.
Empat, yang terpenting darimu adalah bagian dalam tubuhmu.
Lima, pada permukaan apa saja kau digoreskan, kau harus dapat meninggalkan coretan (kesan)," jelas si pembuat pensil.
Pensil memahami semua nasihat itu dan berjanji akan selalu mengingatnya.
"Pertama, kau dapat melakukan banyak hal yang besar asal kau bersedia berada dalam genggaman orang.
Kedua, kau akan merasakan pedihnya rautan dari waktu ke waktu, tapi kau membutuhkan itu agar menjadi pensil yang lebih baik.
Ketiga, kau harus bisa mengoreksi kesalahan yang kau goreskan.
Empat, yang terpenting darimu adalah bagian dalam tubuhmu.
Lima, pada permukaan apa saja kau digoreskan, kau harus dapat meninggalkan coretan (kesan)," jelas si pembuat pensil.
Pensil memahami semua nasihat itu dan berjanji akan selalu mengingatnya.
Langganan:
Postingan (Atom)